x

Fenomena Sound Horeg dalam Takbir Keliling: Analisis Sosial dan Keagamaan

waktu baca 3 menit
Kamis, 26 Mar 2026 10:14 0 53 I'anah Jurnalistik

Ianah News
Opini – Takbir keliling merupakan salah satu tradisi yang berkembang di tengah masyarakat Muslim Indonesia dalam menyambut hari raya Idul Fitri.

Tradisi ini tidak hanya menjadi bentuk ekspresi kegembiraan, tetapi juga sarana syiar dalam mengagungkan kebesaran Allah SWT setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan.

Dalam perkembangannya, muncul fenomena baru berupa penggunaan sound system berdaya besar yang dikenal dengan istilah “sound horeg”.

Fenomena ini memunculkan dinamika baru yang menarik untuk dikaji, baik dari perspektif sosial maupun keagamaan.

Dalam ajaran Islam, perintah untuk mengagungkan Allah SWT melalui takbir memiliki dasar yang kuat. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Ayat tersebut (QS. Al-Baqarah: 185) menunjukkan bahwa takbir merupakan bentuk ungkapan syukur atas petunjuk yang telah diberikan.

Oleh karena itu, pelaksanaan takbir, termasuk dalam bentuk takbir keliling, idealnya tetap menjaga nilai-nilai kekhusyukan dan tujuan spiritualnya.

Secara sosiologis, tradisi keagamaan yang berkembang di masyarakat sering mengalami proses adaptasi terhadap perubahan zaman.

Hal ini sejalan dengan konsep perubahan sosial, di mana budaya lokal dapat mengalami transformasi akibat pengaruh teknologi dan gaya hidup modern.

Fenomena sound horeg dalam takbir keliling dapat dipahami sebagai bentuk akulturasi antara tradisi keagamaan dengan budaya populer.

Penggunaan sound system berdaya besar memberikan daya tarik tersendiri, terutama bagi generasi muda. Hal ini berdampak pada meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan takbir keliling.

Dari perspektif sosial, sound horeg dapat berfungsi sebagai media pemersatu dan sarana ekspresi kolektif. Kemeriahan yang dihasilkan mampu menciptakan suasana kebersamaan dan memperkuat ikatan sosial antarwarga.

Dalam konteks ini, fenomena tersebut memiliki nilai positif sebagai bentuk dinamika budaya yang adaptif terhadap perkembangan zaman.

Namun demikian, dari perspektif keagamaan, fenomena ini juga menimbulkan sejumlah persoalan. Dominasi suara keras dan unsur hiburan berpotensi menggeser esensi utama takbir sebagai bentuk ibadah. Takbir yang seharusnya menjadi pusat kegiatan dapat berubah menjadi pelengkap di tengah dominasi aspek hiburan.

Selain itu, penggunaan sound horeg dengan volume berlebihan juga dapat menimbulkan gangguan terhadap ketertiban umum.

Hal ini bertentangan dengan prinsip dasar dalam Islam yang menjunjung tinggi nilai kemaslahatan dan menghindari mudarat. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara ekspresi budaya dan nilai-nilai normatif agama.

Fenomena ini juga dapat dianalisis sebagai bentuk pergeseran dari dimensi sakral menuju dimensi profan dalam praktik keagamaan.

Ketika unsur hiburan lebih dominan dibandingkan nilai spiritual, maka terjadi transformasi makna yang perlu disikapi secara kritis oleh masyarakat.

Fenomena sound horeg dalam takbir keliling merupakan bagian dari dinamika sosial yang tidak dapat dihindari.

Di satu sisi, fenomena ini menunjukkan adanya kreativitas dan adaptasi masyarakat terhadap perkembangan zaman. Namun di sisi lain, terdapat potensi pergeseran nilai yang dapat mengurangi makna spiritual dari takbir itu sendiri.

Oleh karena itu, diperlukan sikap bijaksana dalam menyikapi fenomena ini. Keseimbangan antara kemeriahan dan kekhusyukan menjadi kunci utama agar tradisi takbir keliling tetap menjadi sarana ibadah dan syiar yang bermakna.

Dengan demikian, masyarakat dapat merayakan hari raya secara meriah tanpa kehilangan esensi pengagungan kepada Allah SWT.

Penulis: Masudi, S.Hum. – Pimpinan Redaksi I’anah News

Tinggalkan Komentar

Kunjungi Youtube Kami

Statistik Pengunjung

x